Yang Tertakar Tidak Mungkin Tertukar

Apakah kita pernah berfikir, bahwa Allah SWT tidak adil menetapkan takdir-nya kepada kita? Pasti jawabannya pernah bahkan sering berburuk sangka atas takdir-nya. Terkadang juga kita menyalahkan Allah SWT atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Sesungguhnya setiap manusia hidup di dunia pasti diuji dan mendapatkan cobaan. Entah itu laki-laki, perempuan, tua, muda, gemuk, kurus, tidak peduli siapa pun itu pasti diuji, kecuali orang yang tidak memiliki akal (gila)  dan mereka yang telah mati. Didalam Al-qur’an telah disebutkan “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Q.S. Al-Ankabut: 2-3)

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa rangkaian ayat ke-2 dan ke-3 dalam Q.S. Al-Ankabut di atas menegaskan bahwa setiap orang yang telah mengikrarkan diri bahwa dia seorang mukmin, maka pasti dia akan diuji oleh Allah Swt dengan beragam bentuk ujian untuk membuktikan keimanan seseorang.

Adapun ujian tersebut telah ditetapkan dalam Alquran dan sunnah. Telah dijelaskan dalam buku Tafsir Al-Amtsal karya Syekh Nasir Makarim, seluruh umat manusia, termasuk golongan para Nabi, sama-sama diberikan ujian oleh Allah untuk mengukur potensinya. Seperti halnya kaum munafik pada zaman nabi Muhammad Saw menfitnah istri rasulullah telah berselingkuh dengan laki-laki lain, Yakni Ummul Mukminin Aisyah RA dengan Shafwan ibn Muaththal. Rasulullah sungguh tak berdaya menghadapi fitnah yang sudah menyebar luas. Sehingga muncullah peristiwa hadist al-ifki (berita dusta) di Madinah pada masa itu.

Ujian sebagai bukti nyata seberapa besar keimanan seseorang terhadap Allah SWT. Bisa jadi manusia diberi kesempitan hidup, susah ekonomi, sakit hati, ditinggalkan orang yang dicintai, bahkan sulit untuk mendapatkan jodoh, semata-mata Allah ingin mengetahui seberapa besar kesabaran kita dan seberapa baik amal perbuatan kita. Maka nikmat yang diberikan Allah tidak membuatnya pandai bersyukur, hal ini akan mudah membuat seseorang terjerumus dalam maksiat dan dosa.

Seseorang memiliki beragam cara menyikapi ujian tersebut, ada yang tetap teguh pada keimannya. Ia justru menjadi seorang mukmin yang semakin kuat dan teguh pendirian dengan keimanyang dimilikinya. Dia yakin sepenuh hati bahwa beragam ujian yang Allah berikan mengandung hikmah serta pelajaran berharga dalam hidupnya.

Disisi lain ada seseorang menyikapi ujian dan cobaan yang dialaminya dengan mengeluh, meratapi nasib, bahkan mempertanyakan keadilan Allah. Ia merasa tidak kuat dengan kesulitan ekonomi yang dihadapinya, sedih berkepanjangan bahkan sampai lupa untuk menjaga kesehatan karena ditinggal oleh orang yang dicintainya. Seseorang hanya fokus melihat sesuatu yang tidak dimilikinya, sampai lupa memperhatikan apa yang telah dimikinya. Padahal, kalau seseorang  berfikir lebih jernih  pasti ia bisa melalui ujian yang dialaminya, karena ia sudah diberikan bekal untuk menghadapinya, yakni pengalaman hidupnya sendiri.

Sebenarnya manusia diberikan cobaan tidak melampui batas kemampuannya. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir“. (Q.S. Al-Baqarah:286)

Jadi kita seharusnya merasa bersyukur dengan ujian yang diberikan Allah SWT,  karena itu menandakan Allah sangat mengasihi dan menyayangi kita. Semakin berat ujian dan cobaan, semakin membuktikan keimanan kita kuat dan Allah ingin menaikkan derajat seseorang. Apabila ujian seseorang semakin sedikit, maka pertanda imannya juga lemah.

Maka kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah atau semakin jauh dengan Allah SWT. Cobaan yang dialami harus membuat kita semakin kuat, semakin tangguh, dan tegar bagaikan batu karang di lautan yang semakin kokoh, walaupun terus dihempas oleh ombak.

Author: Siska Sutriani_Mahasiswi MPI smt 4

Editor: Nabila N.A

Artikel Terkait

Artikel Terbaru