Menulislah…!

Oleh: Mochammad Hisan

Tidak sulit untuk mengungkapkan secara lisan apa yang terlintas dalam pikiran menjadi sebuah kata dan kalimat. Karena sedari kecil oleh lingkungan baik orang tua maupun orang disekitar kita, kemampuan verbal seorang anak dibentuk secara inten, diasah secara telaten. Untuk mengenali lingkungan terdekat misalnya, anak pertama kali diejakan huruf demi huruf untuk memverbalkan, bukan dengan menulis.

Menulis huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat baru diajarkan sejak anak masuk usia Sekolah Dasar (SD/MI). Di usia PAUD dan TK saja, kita dituntut lebih banyak kefasihan verbal. Bernyanyi, merangkai sesuatu menjadi lebih indah adalah hal biasa yang kita saksikan dalam sistem pendidikan di usia dini. Kebiasan-kebiasaan demikian, oleh para Psikolog diteliti secara ilmiah dan akhirnya mereka berkesimpulan tentang hieraki fase perkembangan manusia secara utuh, sejak lahir hingga manusia berada pada fase lansia.

Namun, apakah menulis itu sulit, apakah menulis itu harus berbakat? Jawabannya tentu tidak. Menulis adalah kebiasaan, semakin kita terbiasa menulis, maka semakin mudah mengekspresikan pikiran kita dalam karya tulis. Hal itu sama seperti ketika kita dibiasakan dengan meng-ekspresikan pikiran dengan kata dan kalimat. Kalau sudah terbiasa, maka menulis sangatlah mudah. Menulis apa saja, dimana saja dan kapan saja.
Hanya saja kalau karya tulisnya ingin bisa dinikmati seperti halnya makanan yang lezat dan nikmat, tentu hal itu memerlukan modal yang sangat sederhana, yaitu membaca. Setiap dari kita, terlepas apapun status dan profesinya, membaca bisa dilakukan. Kemampuan membaca kita, seberapa banyak yang sudah kita baca, akan sangat mempengaruhi kualitas karya tulis yang kita hasilkan.

Membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Bila hanya bisa menulis, maka sudah bisa dipastikan, apa yang ditulis akan terasa ambyar, layaknya makanan tanpa garam dan penyedep rasa. Begitu pula, ketika hanya ada kemampuan verbal tanpa diimbangi dengan menulis, maka akan segera lekang oleh pergantian zaman. Ada satu kalam hikmah dari Hujjatul Islam, Al-Ghazali, semua orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang membahagiakan akhirat kelak. Tidak hanya Imam Al-Ghazali, Pramoedya Ananta Toer juga memberikan pernyataan tentang manfaat besar dari karya tulis. Pramoedya menjelaskan bahwa orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dimasyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Baik Imam Ghazali maupun Pramoedya Ananta Toer sama-sama memiliki karya tulis yang tidak terhitung jumlahnya. Salah satu magnum opus karya tulis imam Ghazali hingga sekarang menjadi referensi penting yang diajarkan di Pesantren-Pesantren salaf, Ihya’ Ulumuddin. Begitupula Pramoedya Ananta Toer, tak sedikit karya-karya sastra yang beliau hasilkan dan hingga hari ini masih menjadi santapan lezat para penikmat buku-buku sastra.

Bukankah, peradaban terdahulu disampaikan dari satu generasi ke negerasi berikutnya dengan tulisan? Bukankah kehebatan para penguasa terdahulu juga tersampaikan pada generasi berikutnya dengan karya tulis? Bukankah ke molekan dan daya tarik cleopatra yang meruntuhkan dua dinasti kekaisaran tersampaikan beritanya juga dengan karya tulis? Maka tidak ada alasan bagi kita, keluarga besar STAIM Lumajang untuk tidak mencurahkan apa yang terlintas dalam pikiran dengan karya tulis. Semoga 5 (lima) tahun kedepan terlahir para penulis-penulis hebat yang menyampaikan kejayaan STAIM Lumajang pada generasi mendatang, pada dunia dengan karya tulis. Semoga…!

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Artikel Terkait

YANG BERBEDA

Artikel Terbaru