Berebut Nasab, Bukan Nasib

Oleh; Mochammad Hisan*

Pada hari selasa malam, 25 Juni 2024 saya berkesempatan silaturrahim (sowan; red) kepada Ketua Rois Syuriah PCNU Lumajang, KH. Mohammad Husni Zuhri. Selain tabarrukan (mengharap aliran barokah beliau), karena saya diberi amanah untuk mengelola dan mengembangkan Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren yang beliau asuh -Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang, kesempatan silaturrahim itu juga saya pergunakan untuk melaporkan secara non-formal tentang perkembangan pengelolaan STAIM Lumajang yang dimanahkan kepada saya dan sahabat-sahabat pengurus lainnya.

Selepas saya melaporkan tentang perkembangan pengelolaan STAIM Lumajang, seperti biasanya beliau mengajak kita mendiskusikan isu-isu aktual yang sedang viral dimasyarakat. Salah satunya, isu ribut-ribut tentang nasab yang akhir-akhir ini mulai ramai diperbincangkan kembali disebagian kalangan umat Islam. Tokoh Indonesia yang berjuluk Raja Dangdut -H. Rhoma Irama misalnya, dengan menceritakan pengalaman pribadinya ketika mendengar penceramah yang berlatar belakang habib menyampaikan pernyataan “itu kalau ada anak habib walaupun dia mabuk-mabukan, walaupun penzina, pencuri, penjudi, jangan kate ape-ape. Dia itu turunan Nabi, jangan disakiti, jangan diomelin, dia itu ahli surga,” kata Rhoma Irama meniru ucapan habib tersebut (tvonenews.com, 22 Juni 2024).

Menurut Rhoma Irama seandainya nasab Ba’alwi benar keturunan Nabi SAW, maka akan banyak umat yang mencintainya. Dan oleh karena itu, Rhoma Irama menyarankan kepada para pemilik nasab Ba’alawi untuk menelaah kembali ayat-ayat Al-Qur’an yang dipelajari agar tidak menyesatkan (tvonenews.com, 22 Juni 2024).

Sontak saja pernyataan Rhoma Irama mendapatkan tanggapan keras dari kelompok yang selama ini berada dibarisan nasab Ba’alawi. Habib Bahar bin Smith dan Habib Rizik Syihab sama-sama meminta Rhoma untuk menunjukkan siapa Habib yang berkata demikian, menurut Habib Rizik dan Habib Bahar tidak ada ajaran yang menghalalkan perkara mabuk-mabukkan, zina, mencuri dan lain sebagainya justru nasab Ba’alawi memiliki tanggul jawab double (ganda).

Sebenarnya bila kita tarik kebelakang, perdebatan mulai memanas ketika ada oknum yang mulai memberikan pernyataan merendahkan tokoh-tokoh NU. Pun, memancing respon yang agak ekstrim hingga mengeluarkan pernyataan kalau memang Ba’alawi benar-benar keturunan Nabi SAW, maka harus dibuktikan secara ilmiah, yaitu dengan cara melakukan tes DNA dan membongkar makam Nabi Muhammad SAW untuk mengambil sampelnya.

Perdebatan semacam diatas, tidak berhenti dilevel tokoh nasional, beberapa hari yang lalu Kiai Husni menceritakan, ada rombongan habaib dari bondowoso dan jember silaturrahim kepada beliau dan salah satu tema perbincangan yang didiskusikan tidak terlepas dari nasab Ba’alawi. Mereka menanyakan sikap dan pandangan Kiai Husni tentang nasab Ba’alawi. “Sayangnya yang diperebutkan tentang nasab, bukan nasib”, begitu dawuh beliau memberikan jawaban pada habaib.

Lebih lanjut, Kiai Husni menjelaskan sikap beliau tidak terlepas dari sikap-sikap yang sudah dicontohkan oleh para salafuna sholeh terutama di jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Husni tidak terlalu ambil pusing dengan perdebatan pernasaban, karena bagi beliau yang lebih terpenting adalah atsarun nubuwah (jejak ajaran kenabian) yang terlihat dari sikap cinta terhadap ilmu dan akhlak yang dicontohkan Nabi besar Muhammad SAW. Nutfah Nubuwwah tidak hanya melulu diartikan keturunan biologis, namun diperluas pada orang-orang yang mempraktekkan ilmu dan akhlak yang dicontohkan Nabi. Bisa jadi, orang yang sama sekali tidak ada gen biologis Nabi SAW, namun cinta pada Ilmu dan berperilaku sesuai akhlak yang dicontohkan Nabi SAW, maka orang tersebut mewarisi nutfah nubuwwah. Sebagaimana halnya sahabat Salman Alfarisi yang diakui Nabi Muhammad SAW sebagai ahlul bait, meskipun beliau tidak terlahir dari darah daging Nabi dan bukan dari suku Quraisy.

Pandangan dan sikap Kiai Husni juga tidak jauh berbeda dengan yang dijelaskan Prof. Quraisy Syihab, ahli tafsir Al-Qur’an Indonesia yang tergolong habib, namun tidak pernah mau dipanggil “habib”. Menurut beliau yang lebih penting adalah kita tonjolkan akhlak kita, ilmu kita, pengabdian kita. Itulah yang menjadikan Rasulullah bangga. Orang ribut tentang apakah ini keturunan Rasulullah atau tidak, saya tidak komentar itu” (nuonline.or.id, 13 Mei 2023).

Oleh karena itu, perdebatan tentang nasab semestinya lebih diarahkan untuk mencontoh perilaku dan akhlak yang diteladankan Nabi Muhammad SAW. Menumbuhkan sikap saling menghargai, saling menghormati, menghindari sikap menghina dan merendahkan. Wallahu A’lam

*) Penulis adalah Ketua STAIM Lumajang

Artikel Terkait

Artikel Terbaru