PBAK STAIM Hadirkan Narasumber Seorang Filsuf Sekaligus Aktivis FNKSDA Gus Fayyadl

LUMAJANG – Pengembangan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIM) ke XI menghadirkan seorang filsuf, alumni Universite Paris jurusan filsafat, Muhammad Al-Fayyadl yang juga aktivis Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA).

Melalui tema “Menciptakan Budaya Literasi, Disiplin dan Aktif Berorganisasi” diharapkan ke depan, lahir Gus Fayyadl Gus Fayyadl lain yang siap menghibahkan hidupnya untuk membela kaum mustadafin.

Sebagaimana sepak terjang Gus Fayyadl di organisasi FNKSDA yang selalu ada di garda terdepan ketika membela masyarakat bawah. Ia memimpin mujahadah bersama warga saat proyek NYIA menggusur tanahnya. Gus Fayyadl tegas mengecam perusakan lingkungan ketika tambang Tumpang Pitu Banyuwangi mengancam lahan pertanian.

“Menjadi Nahdliyin itu harus progresif,” demikian kata Gus Fayyadl sebagaimana dikutip Medium.com, selain aktif berorganisasi, buku Derridean menjadi bukti kecintaannya dalam bidang literasi, diharapkan menular ke Maba STAIM.

Di Aula Kampus STAIM, Gus Fayyadl membuka materinya dengan pernyataan soal mitos yang menghambat kenapa orang Indonesia tidak tertarik untuk membaca dan apalagi menulis. Rupanya, kata Gus Fayyadl, ditemukan fakta bahwa Indonesia berdasarkan Indeks literasi antar negara, berada di posisi paling rendah. Bahkan ketinggalan jauh dari Malaysia dan Singapura.

“Mitos yang sangat umum kenapa seseorang tidak berminat untuk membaca dan menulis adalah, mereka merasa, orang hanya anaknya petani, ujung-ujungnya ya pasti jadi petani,” kata Gus Fayyadl, Kamis 21 Agustus 2023.

Lantas, Gus Fayyadl, melempar pertanyaan, siapa yang sudah membaca bukh sebelum berangkat ke kampus. Dari ratusan mahasiswa, hanya segelintir yang angkat tangan, salah satu mahasiswa mengaku baca buku terakhir sehari sebelumnya.

Menurut Gus Fayyadl, membaca dibedakan menjadi dua: 1. Membaca sebagai kemampuan. 2. Membaca sebagai keterampilan akan tetapi menurut para pakar literasi, membaca sebagai keterampilan lebih dari halnya “Kemampuan” tersebut.

“Membaca sebagai keterampilan adalah suatu proses mengenali tanda-tanda yang tertulis dan memahami serta membagun makna yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Gus Fayyadl mengajak mahasiswa untuk membaca buku apa saja, kata dia, bila semula membaca sebagai kemampuan, nantinya akan naik tingkat menjadi membaca sebagai keterampilan seiring dengan kebiasaan dan kecintaannya dalam membaca buku.

Penulis: Robith
Editor: Fahmi

Artikel Terkait

YANG BERBEDA

Artikel Terbaru