MENJAGA TRADISI NYABIS

Oleh: Mochammad Hisan

Kata “nyabis” adalah bahasa madura yang memiliki arti mendatangi, silaturrahim ke kiai atau tokoh agama baik untuk meminta saran, arahan maupun hanya sekedar datang bertamu. Kata “nyabis” memiliki padanan arti kata “sowan” dalam bahasa jawa. Sedangkan dalam Bahasa arab yang sudah dibahasa indonesiakan bisa dikategorikan dengan silaturrahim.

Nyabis menjadi tradisi kalangan masyarakat pesantren baik yang masih aktif di dalam Pondok Pesantren maupun yang sudah berhenti/boyong kerumah masing-masing. Untuk masyarakat pesantren yang masih aktif (santri; baca), nyabis dilakukan pada hendak pulang liburan, hendak berhenti (boyong; jawa) bermukim di Pondok Pesantren dan saat kembali ke Pondok Pesantren setelah masa liburan. Berbeda dengan santri aktif, santri yang sudah boyong (alumni; red) memiliki kebiasaan dan intensitas sendiri-sendiri sering tidaknya “nyabis”. Ada yang “nyabis” satu tahun sekali bersamaan dengan kegiatan tahunan Pondok Pesantren semisal kegiatan akhir tahun (akhirussanah, haflah, haul), ada juga yang setiap bulan, ada juga yang “nyabis” saat memiliki masalah kemudian meminta pertimbangan, saran dan arahan dari guru/kiainya.

Kebiasaan “nyabis” tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan kaum santri bahwa ilmu tidak hanya memiliki dimensi kecerdasan pikiran (intelectual question), namun juga dimensi kebermanfaatan baik untuk masyarakat saat seorang santri sudah hidup ditengah-tengah masyarakat dan terutama bermanfaat untuk diri sendiri. Untuk bermanfaat ilmu yang sudah didapatkan, santri yang sudah alumni harus tetap tersambung silaturrahim dengan Guru/kiainya baik tersambung secara fisik maupun jiwa sebagaimana diperkuat dengan pepatah “man lam ya’rif al-usul harroma ‘anil whusul”, artinya santri yang melupakan kiainya jangan harap pada kesuksesan (jangan sampai menjadi kacang lupa kulitnya)”.

Disamping sebagai media ketersambungan ikatan, nyabis juga menunjukkan relasi kia-santri dalam koridor tholabul ilmi. Hujjatul Islam, Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menempatkan “nyabis” sebagai salah satu nikmat kesempurnaan kecerdasan akal dan tata krama. Karenanya kiai Husni Zuhri, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang menekankan pentingnya para alumni untuk tetap aktif dalam kegiatan rutin bulanan IKSABA yang dilaksanakan diwilayahnya masing-masing. Bahkan beliau dalam satu kesempatan dawuh “alumni yang aktif hadir pada kegiatan rutinan IKSABA sama halnya setiap bulan bertemu dengan saya”.

Begitulah tradisi “nyabis” tetap terlihat dan terjaga dikalangan masyarakat pesantren. Pun jangan sampai punah dari kebiasaan kita sebagai santri.

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Artikel Terkait

Artikel Terbaru