YANG BERBEDA

Oleh: Mochammad Hisan (Ketua STAIM Lumajang)

Dini hari (Jum’at, 01/03/2024) saya bersama sahabat-sahabat pengurus STAIM Lumajang -Zarkasi, H.Zainuddin, Zainal, Gus Hasan, Erlin dan Uyun- berangkat mengantar rombongan tamu dari University Teknologi Mara (UiTM) Cawangan Negeri Sembilan Malaysia -Dr. Siti Sara Ibrahim, Puan Azima, Kakak Hanin dan En Afizan- ke destinasi wisata milik Provinsi Jawa Timur Indonesia, Gunung Bromo. Tepat pukul 03.00 pagi hari kami sampai lokasi transit untuk pindah kendaraan, dari Hiace yang menghantar dari Lumajang ke Jeep yang biasa dipergunakan untuk pendakian di Gunung Bromo. Karena memang kita sebelumnya tidak ada kontak soal jeep, maka saat itu masih tawar-menawar harga. Tak lama kemudian, jeep yang kita butuhkan sudah disiapkan dan karena satu jeep maksimal bisa di isi 6 orang, kita yang berjumlah 12 orang membutuhkan 2 jeep sekaligus.

Tanpa menunggu lama, kita yang sudah penasaran dengan panorama kabar keindahan Bromo langsung menaiki mobil Jeep. Katanya supir Hiace, kalau tidak segera berangkat maka kita semua akan terlambat untuk menikmati keindahan senyum sapa matahari yang menjadi salah satu daya tarik Bromo. “Ah…ada-ada saja pikirku padahal senyum sapa matahari bisa kita jumpai dimana saja, tidak hanya dari Gunung Bromo”, sanggahku dalam hati.
Kang asli Bromo ya, suku tengger”, tanyaku pada supir Jeep yang aku tumpangi dengan lima sahabatku. “Iya kang tapi rumah agak masuk dari jalan raya”, jawabnya singkat. Berarti kang supir ini beragama hindu pikirku dalam hati. “Biasanya upacara-upacara keagamaan adat yang ramai kapan kang, hari raya galungan ramai ya”, tanyaku lagi. “Ramai sekali dan setiap perayaan meskipun bukan galungan tetap ramai”, imbuh kang supir menjawab pertanyaanku.

Dari dialog dan cara kang supir memperlakukan saya dan rombongan, terlihat jelas sekali sikap menghargai dan menghormati meskipun kang supir tahu kita yang dihantar berbeda agama, berbeda keyakinan. Tidak hanya dari tutur kata saja kang supir yang menjadi representasi suku tengger menghargai tapi dari cara bersikap dan berperilaku serta memberikan rasa aman pada kita dan pada semua pengunjung yang bertamu ke Gunung Bromo. Mereka tidak membeda-bedakan suku, agama, etnis, jenis kelamin dan kewarga negaraan yang datang ke Gunung Bromo.

Memang suku tengger terutama yang menghuni daerah pegununungan Bromo baik yang ada di Kabupaten Lumajang (Ranu Pani), Probolinggo, Pasuruan dan Malang, selain sektor pertanian untuk menopang kebutuhan ekonomi mereka sangat tergantung pada sektor pariwisata. Banyaknya pengunjung yang berwisata, berarti roda perekonomian suku tengger khususnya yang berada di daerah bromo berputar dan berjalan. Karenanya mereka sangat menjunjung tinggi norma, aturan serta sopan santun antar individu baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Suku tengger adalah salah satu suku dari sekian banyak suku yang ada di Indonesia. Konon menurut cerita tutur asal usul suku tengger berasal dari sepasang kekasih, Roro Anteng, seorang putri cantik nan jelita dari kerajaan Singosari yang bertemu dan menikah dengan jejaka tampan rupawan dari kerajaan majapahit kuno. Pasca menikah, mereka berdua membangun permukiman yang terletak di kaki gunung Bromo yang tidak lain adalah Tanah Tengger.

Nama Suku Tengger sendiri diambil dari gabungan dua nama Roro Anteng dan Joko Seger. “Teng” adalah suku kata akhir dari Roro Anteng, sedangkan “Ger” diambil dari nama Joko Seger. Masih menurut cerita tutur, Suku Tengger adalah keturunan dari pasangan Roro Anteng dan Joko seger. Pasca menikah selama 25 tahun, karena tidak dikarunia seorang anak, mereka berdua bertapa di kaki gunung bromo seraya bersaksi dan berjanji, jika kelak mereka berdua dikarunia anak, maka anak bungsu mereka akan dijadikan sesembahan tumbal Gunung Bromo. Selepas mereka berdua melakukan pertapaan, akhirnya Roro Anteng dan Joko Seger dikarunia anak dan yang bungsu (anak terakhir) Bernama Raden Kusuma.

Sesuai dengan janjinya, Roro Anteng dan Joko Seger pada akhirnya Raden Kusuma dijadikan sebagai tumbal sesembahan pada gunung bromo. Raden Kusuma-pun ikhlas mengorbankan dirinya, sebagai penebus janji kedua orang tuanya, namun dia berpesan kepada saudara-saudaranya untuk hidup rukun, saling menghormati dan menghargai serta setiap tanggal 14 kasada minta upeti hasil bumi. Dari cerita tutur inilah akhirnya lahir upacara kasada yang bisa kita saksikan perayaannya hingga hari ini.

Nah…asyik kan selain bisa menikmati keindahan panorama Gunung Bromo, kita disini diajarkan sikap-sikap menghargai, menghormati dan tepo selero. Yang berbeda tidak perlu dipaksa untuk sama begitupun yang sama tidak boleh dipaksa untuk berbeda. Bagaimanapun, perbedaan adalah sunnatullah yang harus kita hargai bersama…!

Artikel Terkait

MENJAGA TRADISI NYABIS

Artikel Terbaru