Unjung-Unjung

Hari Raya Idul Fitri, riyoyoan, lebaran (Jawa), tellasan (Madura) 2023 atau 1444 H sudah memasuki hari ke-5. Kalau yang beraktifitas bekerja dikantoran, ASN maupun yang di Perusahaan, libur cutinya sudah habis. Artinya, mereka sudah mulai aktif masuk kantor mulai hari ini. Namun berbeda dengan yang tidak berstatus ASN dan pekerja kantoran, pegawai dan perusahaan, di hari ke-5 biasanya masih melanjutkan unjung atau silaturrahim ke rumah saudara, kerabat, rekan dll.

Unjung adalah bahasa Jawa diambil dari kata kunjung. Dalam kebiasaan masyarakat Jawa kata unjung menggambarkan berkunjungnya satu dua orang lebih ke rumah yang lain untuk saling bermaaf-maafan secara lahir dan batin. Di desa Karang Rejo, Ujung Pangkah Gresik dan mungkin tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lainnya, setelah melaksanakan shalat Idul Fitri, para warga terlebih dahulu nyekar ke sanak saudara yang terlebih dulu mendahului wafat. Membacakan Alfathihah, Tahlil, Yasin dan doa-doa pendek. Baru kemudian dilanjutkan dengan unjung ke saudara, tetangga kanan-kiri rumah dan seterusnya ke saudara-saudara jauh, teman sejawat dan lain sebagainya.

Dalam ‘Unjung’ biasanya dimulai dari yang muda ke yang lebih tua usianya, anak ke orang tua, Keponakan ke Pak De, Adik ke Kakak dan seterusnya. Juga, ada yang hanya sekedar bersalaman seraya berucap “Ngaturaken kelepatan” (?enyampaikan kesalahan) sekaligus meminta maaf, ada juga yang sambil duduk dan menikmati hidangan yang dipersiapkan tuan rumah setelah itu pindah ke rumah berikutnya.

Memang berlebaran di Indonesia, khususnya di Jawa terlebih lagi di desa-desa lebih asyik, lebih terasa bagaimana keguyuban dan kerukunan. Nah, asyik kan kebiasaan “Unjung” di desa, kalau di daerahmu seperti apa dulur-dulur? Oh ya lupa, sepuroan yo, lahir batin kosong-kosong dan selamat riyoyoan.

Penulis: Mochammad Hisan
Ketua STAI Miftahul Ulum Lumajang

Artikel Terkait

YANG BERBEDA

Artikel Terbaru