Nyekar, Mengingatkan Kematian

oleh: Mochammad Hisan

Kalau di akhir sepuluh hari bulan sya’ban (ruwah; jawa), kita menyaksikan keramaian di tempat orang-orang dikebumikan mulai dari orang berjualan bunga (kembang; jawa) yang sudah dibungkus balastik hingga kendaraan berjejer baik roda dua maupun roda empat. Pemandangan itu bukan tempat wisata atau mereka yang berkunjung tidak sedang berwisata. Umat islam di Indonesia, khususnya di Jawa memiliki kebiasaan mengunjungi sanak keluarga dan para pendahulu mereka menjelang datangnya bulan Ramadhan dan diakhir bulan Ramadhan. Kebiasan tersebut setiap daerah memiliki penyebutan nama berbeda-beda, ada yang menamakan ‘nyekar’, padusan, arwahan, ziarah kubur dan lainnya tergantung dari daerahnya. Namun disini, saya lebih memilih menggunakan nama ‘nyekar’.

Nyekar berakar dari kata sekar yang berarti bunga atau kembang, karenanya kita biasa menyaksikan orang melakukan tabur dan meletakkan kembang diatas makam yang di kunjungi. Kebiasaan tersebut bukan hanya pada saat nyekar menjelang dan akhir Ramadhan saja, namun pada setiap saat nyekar baik untuk sanak keluarga, para pendahulu maupun nyekar ke makam para tokoh agama, kyai maupun ulama.

Selain tabur bunga, pada saat nyekar para pengunjung melanjutkan dengan membacakan surat-surat pendek Al-Qur’an, yasin, tahlil, dzikir dan diakhiri dengan mendoakan ahli kubur. Panjang pendeknya-pun variatif antara satu pengunjung dengan pengunjung yang lain. Hal itu dilakukan untuk memberikan penghormatan dengan berkirim doa. Pun, dalam agama Islam kiriman doa dari keturunan yang sholeh merupakan salah satu pahala yang sampai pada ahli kubur.

Memang tradisi nyekar, selain bertujuan mengunjungi sanak saudara yang sudah mendahului ke alam kubur sebagaimana konsepsi theologis kita, saat kematian roh manusia berada di alam barzakh hingga kelak dibangkitkan pada saat hari kiamat. Nyekar juga bertujuan agar kita yang masih hidup bisa mengingat kematian, setiap yang bernyawa tidak terkecuali manusia akan menjalani fase ‘kematian’ dan akan mendapatkan perlakuan yang sama kecuali orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Konsep inilah sebenarnya yang menjadi esensi tujuan dari nyekar.

Menurut Clifford Geertz -antropolog Amerika yang banyak meneliti tentang ritual keagamaan di Indonesia- ritual-ritual dalam masyarakat Jawa khususnya, tidak hanya berfungsi untuk mengingatkan kembali akan Tuhan, akan tetapi juga sebagai suatu media penghubung atau jembatan individu manusia terhadap sesuatu yang “disana” (Tuhan). Perilaku masyarakat yang demikian kemudian melahirkan pola-pola perilaku tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Pola-pola perilaku manusia kemudian akan melahirkan simbol-simbol sebagai suatu ekspresi akan suatu identitas yang ingin disampaikan.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat “nyekar” dan selamat menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan 1445 H / 2024 Masehi, semoga Allah memberikan kita kekuatan dalam menjalankan ibadah puasa. Amin

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Artikel Terkait

YANG BERBEDA

Artikel Terbaru