Menjadi Mandiri

Oleh: Mochammad Hisan

Ikatan Santri dan Alumni PP Banyuputih Kidul (IKSABA) Jatiroto Lumajang akhir-akhir ini tengah melaksanakan konsolidasi pemikiran, meminta masukan ide dan gagasan untuk meningkatkan peran kiprahnya ditengah-tengah masyarakat terutama dalam bidang kebangkitan kemandirian ekonomi masyarakat Pesantren. “IKSABA kedepan harus kaya”, begitu ungkapan cita-cita Ketua IKSABA, Ust. H. Salim Bahri, saat ngobrol santai di Kantor Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum -STAIM Lumajang. Rupanya, Pak Salim -panggilan akrab Ust. Salim- sudah melakukan langkah-langkah konsolidasi dengan silaturrahim ke beberapa alumni (IKSABA) yang berprofesi pedagang (tujjar) di daerahnya masing-masing. Misalnya H. Ghofur, salah satu alumni yang sudah sukses mendirikan pabrik aneka macam balastik di Kecamatan Tanggul Jember. H. Hambali yang sudah terkenal sebagai keluarga pedagang secara turun temurun. Keluarga Hambali dikenal juragan tebu dan beberapa hasil pertanian terutama di Kecamatan Klakah. Kemudian, H. Nurul Surabaya, terkenal jejaring keluarganya dibidang besi tua. Haji Nurul meneruskan usaha orang tuanya, Haji Umar. Dan beberapa yang sudah ditemui dan diminta pendapatnya untuk membangun kekuatan kemandirian ekonomi masyarakat Pesantren.

Pun, langkah-langkah konsolidasi pearson to pearson yang dilakukan Pak Salim ditindak lnjuti dengan mengundang para pedagang IKSABA pada hari Jum’at, 17 Pebruari 2023 di Ruang Rapat STAIM Lumajang. Sayangnya, aku tidak bisa bergabung di kegiatan tersebut. Namun dua hari sebelum rapat dilaksanakan, ada beberapa obrolan kecil antara saya dengan Ust. Salim yang mungkin bisa dijadikan sebagai pertimbangan dalam mengkongkritkan inisiasi Kebangkitan IKSABA dalam bidang kemandirian ekonomi.

Pertama merujuk pada piagam pendirian Nahdlatut Tujjar (NT) oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang mengkolaborasikan kekuatan visi para agamawan dan Profesional dengan tujuan akhir sebagai penopang kesejahteraan para pendidik agama, maka selaiknya kebangkitan kemandirian ekonomi IKSABA diniati bukan hanya semata untuk menopang ekonomi, namun lebih bervisi pada kesejahteraan sosial terutama kesejahteraan sosial pendidik agama. Artinya para anggota IKSABA yang berprofesi sebagai pendidik/kyai langgar, pendidik di madrasah-madrasah diniyah terpencil harus menjadi prioritas tujuan utama yang akan menerima dampak kesejahteraan dari kebangkitan para saudagar IKSABA.

Kedua bentuk badan usaha dan segmen pasar (market) yang akan digarap sangat penting untuk dipertimbangkan. Tidak lucu bila pasar utama yang ingin digarap adalah masyarakat IKSABA yang notabene masyarakat agraris kemudian membentuk badan usaha dengan segmen garapan masyarakat industrialis dan urban. Bagaimanapun analisa pasar (market) adalah hal yang sangat penting sebelum memantapkan pilihan segmen bentuk usaha. Kemudian yang tidak kalah penting letak geografis keberadaan lokasi usaha. Meskipun mudah dijangkau, namun berada ditengah-tengah masyarakat alam kubur, misalnya seyogyanya tidak terlalu tepat untuk dipilih sebagai lokasi usaha. Setidak-tidaknya, lokasi usaha dekat dengan keberadaan pasar (market) yang menjadi target.
Ketiga IKSABA sebagai forum yang secara struktural tidak terpisahkan dari Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang, tentu hasil akhir rembugnya harus mengindahkan restu dari Kyai Husni Zuhri, sebagai mandatory tunggal Pondok Pesantren Banyuputih Kidul. Apapun dawuh beliau, maka IKSABA perlu mengindahkan. Akhirnya, selamat Ulang Tahun ke-7 IKSABA, selamat bangkit para saudagar IKSABA untuk menjadi KAYA.

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Artikel Terkait

YANG BERBEDA

Artikel Terbaru