Mahasantri Multitalenta

Tahun 2024 merupakan Abad ke 21 yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, globalisasi dan tantangan sosial yang kompleks di berbagai elemen kehidupan. Generasi Z dan Alpha memainkan peran penting dalam transformasi Pendidikan dan interaksi dengan teknologi. Umumnya, Generasi Z ialah mereka yang lahir pada tahun 1990 an hingga 2000 an, sedangkan generasi Alpha yang lahir setelah tahun 2010 an dst.

Dalam rangka mensukseskan program wajib belajar 12 tahun yang diputuskan pemerintah sekitar 2015 lalu, setelah menamatkan Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA) ditempuhlah fase selanjutnya yakni bangku kuliah. Menurut Ensiklopedia, Mahasiswa ialah sebutan bagi orang yang sedang menempuh Pendidikan tinggi di sebuah Perguruan Tinggi baik dari Negeri maupun Swasta, baik Dalam Negeri maupun Luar Negeri. Mahasiswa di berbagai negara mengambil peran penting dalam Sejarah.

 Lantas, siapakah gerangan ia yang disebut Mahasantri? Umumnya, Mahasantri ialah istilah sapaan bagi mahasiswa yang menjalani masa Pendidikan tinggi dan bertempat tinggal di pesantren. Mahasantri kalimat yang terdiri dari dua kata Mahasiswa dan Santri. Istilah Mahasiswa mungkin lebih dikenal di Masyarakat dan dianggap sebagai orang yang memiliki kemampuan intelektual yang baik. Sedangkan kata santri lebih di kenal dengan seseorang yang memiliki kemampuan dalam bidang agama, meski beberapa kali dipandang sebagai orang yang skeptis dan terkekang.

Menurut para ahli, Mahasiswa yang juga santri merupakan element yang saling menguatkan, memiliki kadar kemapuan yang tinggi, komitmen yang pasti, serta keahlian sesuai identitas yag di miliki. Apalagi dengan kegigihan belajar, berkarya, berdedikasi, emangat dan keinginan yang harus menjadi alat untuk menggapai dunia prestasi, memang kesuksesan tidak bisa di ukur dari prestasi tapi dengan itu kita bisa mengevaluasi diri kita untuk lebih baik dan berkembang lagi.

Berperan sebagai Mahasantri memang tidaklah mudah, satu titik besar yang menjadi pembeda istilah mahasiswa dan mahasantri ialah tinggal di pondok pesantren. Pondok pesantren berpengaruh besar dalam membina dan mendidik seorang manusia berbudi pekerti yang luhur. Mahasantri perlu memanage waktu dengan baik sebab peran ganda yang sedang dijalaninya. Asas Tridharma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada Pendidikan, penelitian dan pengabdian Masyarakat diemban oleh mahasantri. Misal sosok Mahasantri yang bertempat tinggal di Pondok Pesantren Miftahul Ulum dan Kuliah di STAI Miftahul Ulum, hampir sebagian multiperan dengan organisasi pondok dan kuliah.

Terdapat dilema mendalam yang dirasakan mahasantri untuk memilih aktif di perkuliahan saja atau juga di organisasi? Solusi sederhana ialah mengapa tidak mengganti kata penghubung “atau” menjadi “dan”. Ilmu di pesantren dapat, bangku kuliah dapat, belajar berorganisasi juga dapat. Begitulah peran mereka sebagai agent of change, social control, serta iron stock hendaknya menjadi landasan gerak dan pemikiran yang senantiasa di emban. Terlebih status mahasantri yang sangat jelas memiliki fungsi nyata ketika terjun di Masyarakat. Menjadi mahasantri secara tidak sadar juga belajar meniti karir dengan multi peran sejak dini.

Syaikhona Romo KH. Husni Zuhri dengan nasihatnya Sompekkah reng monduk sekejjek, Sompekkah reng tak andik elmuh selanjengeh. (Susahnya santri sebentar tapi susahnya orang bodoh selamanya). Mahasantri yang sukses ialah bagaimana peran dan kiprahnya nanti di Masyarakat. Walaupun saat ini masih menjadi butiran permata diantara permata yang lain. Namun, saat nantinya butiran permata bersama dengan tumpukan pasir maka permata sekecil apapun harus tetap bercahaya, permata harus melahirkan permata-pertama selanjutnya. Artinya, dinamika elemen Masyarakat yang senantiasa berkembang, sosok mahasantri harus bisa berperan aktif membangun Masyarakat dengan pengalaman dan pengamalan yang dimiliki. Mahasantri dimanapun berada harus tetap berpegang teguh pada ajaran Islam dan gurunya dengan memberikan dedikasi unggul tanpa batas. Mahasantri boleh saja meragukan kemampuannya, tapi tidak dengan barokah guru dan pesantrennya. Maka dari itu, Saya Bangga menjadi Mahasantri.

Author: Fatichatur Rohmah _ Mahasiswa Prodi IAT Smt 4

Editor: Nabila N.A

Artikel Terkait

Artikel Terbaru