Lemas Boleh, Malas Jangan

Oleh: Mochammad Hisan

Alhamdulillah puasa Ramadhan 1445 H sudah memasuki hari ke-enam, aktivitas Khidmah pembelajaran di Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ulum -STAIM Lumajang juga berjalan dengan lancar meskipun dilaksanakan secara virtual (online). Memang setiap memasuki liburan Panjang -libur Ramadhan- Pondok Pesantren Banyuputih Kidul, pelaksanaan Khidmah pembelajaran dilaksanakan secara virtual sejak STAIM Lumajang berdiri tahun 2013. Hal itu dilakukan disamping sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian), pembelajaran secara online juga bagian dari bentuk adaptasi Perguruan Tinggi berbasis Pesantren dengan perkembangan teknologi terlebih pasca pandemic covid-19. 

Sudah mafhum, penggunaan teknologi pasca pandemic covid-19 mengalami lompatan yang luar biasa. Pertemuan-pertemuan virtual secara besar-besaran menggantikan pertemuan tatap muka secara langsung. Instansi pemerintah maupun swasta, perusahaan, dunia Pendidikan mau tidak mau harus beradaptasi dan wajib menggunakan media pertemuan virtual. Bahkan pemerintah Republik Indonesia beberapa tahun saat wabah pandemi covid-19 mengeluarkan peraturan melarang pertemuan tatap muka secara langsung, wajib work from home (WFH), katanya.

Pun demikian, pembelajaran virtual yang dilaksanakan STAIM Lumajang setiap bulan Ramadhan memiliki keuntungan dan manfaat. Kebiasaan pada saat minggu-minggu pertama melaksanakan ibadah puasa, kita yang berada dalam kondisi mager (malas gerak) akan tersiasati dengan pembelajaran virtual. Baik mahasiswa maupun dosen tidak harus bertemu tatap muka secara langsung di ruang kelas. Dosen dan mahasiswa cukup menyediakan kuota paket internet dan membuka salah satu aplikasi yang disediakan oleh para pengembang, aplikasi zoom maupun google meet dari rumah masing-masing, proses pembelajaran dan diskusi akan berjalan sebagaimana mestinya tanpa perlu datang kekampus. Kelas virtual menjadi alternatif paling efektif dikala tidak bisa bertatap muka secara langsung. Hal demikian juga kita lakukan untuk tetap menjaga produktivitas kerja dalam melaksanakan program kerja STAIM Lumajang. Meeting room virtual menjadi alternatif yang nyaman plus ekonomis untuk mengevaluasi dan merencanakan program kerja yang belum dilaksanakan selama satu tahun kedepan. 

Era teknologi memang memudahkan pelaksanaan semua aktivitas dan pekerjaan, tanpa perlu repot-repot nyetater motor, ngidupin mobil dan lainnya. Era teknologi meniadakan alasan malas gerak (mager), alasan untuk tidak belajar serta alasan lainnya yang menghambat pelaksanaan pekerjaan. Bukankah malas gerak adalah pangkal dari segala kegagalan. Malas adalah penyakit yang menjadi pangkal segala kerusakan. Malas belajar pangkal kebodohan, malas bekerja pangkal kekurangan (kemiskinan), malas olah raga pangkal tubuh tidak sehat dan lain sebagainya. Meskipun demikian, tidak jarang rasa malas kerap menyelimuti kita sebagai manusia biasa. Karenanya para kyai dan para ustad di pondok-pondok mengajarkan agar kita harus selalu memerangi rasa malas. Tidak hanya dengan memerangi secara dlohir saja, namun juga perlu meminta perlindungan dari Allah SWT dengan berdoa. Bahkan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengajarkan doa kepada kita agar terhindar dari rasa malas sebagaimana Imam Bukhori meriwayatkan dalam kitab sohihnya. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia.”

Untuk mencapai apa yang kita inginkan dibulan apa saja, saat berpuasa maupun tidak, kita tidak boleh malas bergerak. Adalah keharusan untuk selalu bergerak. Air yang jernih saja bila terlalu lama tidak mengalir, lama kelamaan akan keruh, bau dan tidak layak untuk diminum dan dikonsumsi. Apalagi kita, manusia, lembaga/organisasi bila tidak bergerak dan digerakkan, maka akan punah dan layak diberi tempat terbaik didalam musium. Imamuna Syafi’i rahimahullah memberi nasehat dengan kalimat, bergeraklah/berangkatlah niscaya engkau akan mendapat ganti dari semua yang ditinggalkan. Bersusah payahlah sebab kenikmatan hidup ada didalam kerja keras.

Namun, bagi sebuah lembaga/organisasi bergerak saja tidak cukup. Bergerak tanpa rencana, maka hanya akan mendapatkan hasil yang tidak maksimal bahkan bisa jadi tidak sesuai dengan yang diharapkan. Gerak lembaga/organisasi harus direncanakan (planning) dengan baik dan matang, untuk itu perlu menejemen, perlu pelibatan kelompok berkepentingan baik internal maupun kelompok eksternal sehingga bisa memberi masukan ide, gagasan dan pemikiran yang konstruktif. Semakin banyak masukan ide dan gagasan, maka semakin baik arah gerak lembaga/organisasi. Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah mengingatkan kita semua tentang pentingnya rencana (planning), gerakan kebaikan yang tidak direncanakan, akan terkalahkan dengan gerakan kerusakan yang direncanakan. Contohnya kita seringkali berbangga dengan banyaknya input mahasiswa baru yang mendaftar, tetapi lupa merencanakan ruang distribusi out-put/lulusan. Dampaknya, lembaga hanya menjadi penyumbang jumlah pengangguran terbuka.

Hal lebih penting lagi dari perencanaan (planning) adalah pelaksanaan yang direncanakan. Tidak hanya selesai di rencana saja, tanpa dieksekusi. Kalau meminjam bahasa viral sekarang, hanya omon-omon saja. Sudah pasti, lembaga/organisasi yang hanya bisa merencanakan tanpa melaksanakan perencanaannya, akan berjalan ditempat kalau tidak mandeg alias mogok. Perencanaan dan pelaksanaan adalah satu-kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara dengan lainnya untuk mencapai target dan tujuan. Satu gerak melaksanakan yang direncanakan, akan mengalahkan seribu perencanaan yang hanya ada dalam angan-angan. Bob Sadino bilang perbedaan orang bodoh dan orang pintar. Orang bodoh tidak bakal mikir yang penting melangkah, sedangkan orang pintar kebanyakan mikir akibatnya tidak pernah melangkah. Maka, tidak heran seringkali kita menjumpai dalam kehidupan nyata, banyak orang berijazah tinggi, bekerja pada yang tidak punya ijazah. Meskipun ijazah bukan satu-satunya ukuran seseorang memiliki pengetahuan.

Dan sebab barokahnya –meminjam bahasa santri– kecanggihan era teknologi, meskipun dalam kondisi berpuasa, berjauhan jarak, waktu dan tempat, keluarga besar Civitas Akademika STAIM Lumajang tetap bergerak, melaksanakan yang direncanakan. Lemes boleh, malas bergerak jangan. Wallahu A’lam Bisowab

Artikel Terkait

Artikel Terbaru