Kisah Ketaatan Nabi Ibrahim Bersama Keluarganya

Sebagai contoh (Uswah Hasanah) dalam menjalani hidup berumah tangga dan balasan dari ketaatan pada perintah Tuhan (agama).

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗۚ
Artinya: “Sungguh benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu pada (diri) Ibrahim dan orang-orang yang Bersama dengannya”.
Dalam tulisan ini, akan mengulas bagaimana Nabi Ibrahim dalam memberi keteladanan kepada anak dan istrinya, bagaimana Ismail patuh pada ayah dan tuhannya dan bagaimana sebagai sosok seorang Istri yang tabah dan mendukung suaminya Ibrahim dalam menjalankan ketaatan pada syariat atau perintah agama.
Pertama: Nabi Ibrahim sebagai ayah
Menjadi seorang ayah yang baik adalah tanggung jawab besar yang mengharuskan seseorang untuk membimbing, mendidik dan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Teladan yang baik untuk menjadi ayah yang baik dapat ditemukan dalam kisah hidup Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim seorang tokoh sentral dalam agama yang menjadi teladan dalam semua aspek termasuk dalam memposisikan diri sebagai seorang ayah.
Nabi Ibrahim adalah teladan yang memiliki tempat Istimewa dalam Islam. Kehidupan dan ajarannya telah mengispirasi seluruh umat Muslim. Nabi Ibrahim diakui sebagai sosok mulia dalam agama Islam karena kesetiaan, keberaniannya dalam menghadapi tantangan musuh Islam, akhlaknya yang luhur kepada sesame manusia bahkan pada semua tamu yang dating padanya dan ketaatannya dalam menajalankan perintah tuhannya. Mari kita mempelajari Kisah dramatis Nabi Ibrahim dan keluarganya sebagai tuntunan kita dalam menjalani hidup bersama keluarga.
Ciri utama Nabi Ibrahim adalah iman dan tauhidnya yang teguh dalam menyembah Allah swt dan keberanianya dalam menyebarkan agama Islam dan menghilangkan kemusyrikan. Ia juga merupakan seorang yang taat dan patuh terhadap perintah Allah, meskipun dalam menjalankannya dia menghadapi banyak cobaan, pengorbanan dan kesulitan yang besar. Ibrahim tidak hanya mengajarkan iman dan keteguhan hati kepada keluarganya secara lisan, tetapi juga dengan tindakan dan perilaku sehari-hari yang dengan inilah kisahnya berpengaruh pada keluarga dan kaumnya.
Hal ini tergambar dengan dia melaksakan perintah Allah Swt untuk menyembelih putra kesayangannya. Kita tidak bisa membayangkan seorang ayah yang sudah sepuh,-diumur sangat senang melihat seorang anak-diperintah untuk menyebelih putranya dengan tangannya sendiri, Allah berfirman, “Sungguh ini adalah ujian yang nyata” . Namun Ibrahim tetap menjalankanya sebagai bentuk ketaatan kepada tuhannya.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ

Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu, pikirkanlah apa pendapatmu?”.
Dalam ayat ini, kita dapat melihat Nabi Ibrahim patuh kepada perintah Allah, walaupun perintah tersebut amat berat dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Nabi Ibrahim menunjukan kepatuhan yang tulus tanpa meragukan dan mengedepankan rasionalitas nafsu dalam menjalankannya. imannya telah mengalahkan nafsu musykilat atau keinginan dia untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan apa hikmah dibalik perintah itu. Imam Muqatil berkata bahwa Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih putrnya itu selama tiga hari berturut-turut, dan mimpi para Nabi adalah wahyu dan kebenaran apabila mereka mendapatkan perintah dari tuhannya lewat mimpi mereka pasti melaksanakannya.

kedua: Nabi Ismail atau Ishaq sebagai anak yang patuh

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Dia, Ismail atau Ishaq menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu!, Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (dalam menjalankan perintah ini). “Wahai ayahku laksanakanlah perintah ini, ikatlah aku dengan kencang sehingga aku tidak bergerak meronta-ronta, dan singkap bajumu ayah agar tidak terkena darahku nanti yang bisa dilihat oleh ibu nantinya dia akan sedih dan tajamkan pisaumu agar mudah membuatku mati dan tidak membuatku lebih merasakan sakitnya diembelih karena sembelihan itu menyakitkan dan apabila kamu dapat menemui ibu sampaikan salamku padanya”.

Perkataan Ibrahim, yang menawarkan bagaimana pendapat anaknya kalau sekiranya dia menjalankan mimpinya, padahal itu sudah perintah Allah yang wajib ia laksanakan, itu ia lakukan karena ingin tahu bagaimana reaksi putranya ketika hendak disembelih demi menjalankan perintah tuhan. Ternyata kepatuhan putranya kepada Ayah dan Tuhannya mengantarkan dia untuk menerima perintah itu dan melaksanakannya dengan sabar. Ibrahim berkata kepada putrnya:

نعم العون أنت يا بني على أمر الله
“Sebaik-baiknya penolongku dalam menjalankan perintah Allah ini adalah engkau wahai puteraku”

Ketiga: Istri Nabi Ibrahim
Setelah setan putus asa karena tidak berhasil menggoda putra Nabi Ibrahim agar tidak menjalankan perintah Allah SWT, kemudian dia mendatangi ibunya, setan berdusta kepada Ibu dari putra Ibrahim itu, “Apakah kamu tahu kemana Ibrahim dan putranya pergi?”, dia menjawab, “Ia saya tahu, mereka pergi untuk mencari kayu bakar kebutuhan keluarga, Setan berdusta lagi, “tidak, demi Allah dia Ibrahim hanya ingin menyembelih anaknya”, ibunya menjawab, “Tidak mungkin, suamiku itu sangat sayang dan mencintai puteranya”, setan berucap, “Ibrahim mengira dia telah diperintah tuhanya untuk berbuat itu”, ibu menjawab, “Apabila itu perintah tuhan, maka apa yang dilakukannya adalah kebaikan karena telah melaksanakan perintah tuhannya”.
Jawaban Istri Ibrahim yang terakhir ini, mengambarkan bahwa beliau patuh kepada keutusan suaminya Ketika dia juga tahu bahwa yang dilakukan oleh suaminya itu adalah syariat agama atau perintah Allah SWT, dia langsung mendukungnya dan tidak membujuk Ibrahim untuk mengurungkan keinginannya untuk melaksakan perintah tuhan. Sungguh beliau adalah teladan yang baik.

Hikmah dibalik kepatuhan pada perintah tuhan dan balasannya
Setelah Ibrahim dan keluarganya menjalankan perintah tuhan dengan ridla dan dengan penuh kepasrahan, Allah memberikan balasan yang besar. Allah berfirman:

فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ ۝

“Ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) meletakkan pelipis anaknya di atas gundukan (untuk melaksanakan perintah Allah),

وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ ۝١٠٤
“Memanggil dia, “Wahai Ibrahim,

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ۝١٠٥
“Engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan”

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ ۝١٠٦
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ ۝
“Kami menebusnya dengan seekor (hewan) sembelihan yang besar. Dan Ketika Nabi Ibrahim dan anaknya membuktikan keteguhan dan ketulusan mereka dalam menerima ujian Allah, kami tebus anak itu dengan seekor domba sembelihan yang besar”.

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَۖ ۝١٠٨
Kami mengabadikan untuknya (pujian) pada orang-orang yang dating kemudian, Dan karena kepatuhannya pula Kami abadikan untuk Nabi Ibrahim buah tutur yang indah dan pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian hingga akhir zaman

سَلٰمٌ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۝١٠٩
Salam sejahtera atas Ibrahim.” Kepadanya Kami sampaikan pula ucapan “Selamat sejahtera bagi Nabi Ibrahim” sebagai penghargaan kepadanya.;

كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ ۝١١٠
Demikianlah imbalan itu Kami berikan kepadanya, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan imbalan pahala di sisi Kami.;
اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ ۝١١١
Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman, jujur, patuh, dan ikhlas dalam melaksanakan perintah Kami.

وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١١٢
Kami telah memberinya kabar gembira tentang (akan dilahirkannya) Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh. Dan di samping buah tutur dan pujian yang indah bagi Nabi Ibrahim sepanjang masa, Kami beri pula dia kabar gembira melalui malaikat dengan kelahiran putra keduanya, yaitu Nabi Ishak. Kelak dia juga menjadi seorang nabi yang termasuk golongan orang-orang yang saleh dan berilmu

وَبٰرَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلٰٓى اِسْحٰقَۗ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَّظَالِمٌ لِّنَفْسِهٖ مُبِيْنٌࣖ ۝١١٣
Kami melimpahkan keberkahan kepadanya dan Ishaq. Sebagian keturunan keduanya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Dan demikianlah Kami limpahkan keberkahan kepadanya dan kepada Nabi Ishak dengan nikmat kenabian. Dan di antara keturunan keduanya ada yang berbuat baik, menaati perintah Allah, dan menyeru ke jalan yang benar sehingga diangkat oleh Allah menjadi nabi dan rasul, dan ada pula dari keturunannya yang terang-terangan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri dengan mengingkari nikmat Allah dan berbuat kerusakan sehingga Allah menurunkan kepada mereka azab yang sangat pedih.

Artikel Terkait

Artikel Terbaru