Jangan Lupa Nyate

Oleh; Mochammad Hisan*

Dalam setiap momen, pasti ada kebiasaan unik dan khas yang dilakukan masyarakat Indonesia. Seperti halnya di moment Idul Adha, hari raya kurban, masyarakat Indonesia biasa masak bersama (massal) dengan warga sekitar lingkungan rumahnya, keluarga, sahabat dan teman dekat. Uniknya, bahan menunya sama, satu jenis yaitu daging sapi atau kambing. Ada yang dimasak rawon, gulai dan yang pasti tidak ditinggalkan, sajian menu favorit, dagingnya dipotong kecil-kecil, ditusuk dengan dengan lidi/bambu, kemudian dipanggang dan inilah yang dinamakan sate atau dalam bahasa tamil disebut dengan satai.

Meskipun kebiasaan “nyate” pada hari Raya Qurban (Idul Adha), tidak teridentifikasi mulai kapan menjadi kebiasaan umat Islam Indonesia, namun beberapa literatur menyebutkan bahwa kebiasaan nyate sudah dekat dengan masyarakat Indonesia sejak abad ke-19 yang dibawa oleh para pendatang dari Arab (muslim tamil) dan gujarat dari India. Sejak saat itulah, menu sate dikenal secara umum masyarakat Indonesia. Karenanya, tidak sulit didaerah manapun untuk menemukan restoran, warung makan, pedagang kaki lima, pedagang keliling yang menyajikan menu sate. Bahkan bagi orang madura yang sedang mengadu nasib ke luar daerahnya (urbanisasi) terutama ke kota-kota besar seperti jakarta, surabaya dan kota-kota lainnya berdagang sate adalah pilihan usaha yang menjanjikan dan menguntungkan.

Hal demikian, tidak lepas dari dari cerita tutur kedekatan masyarakat madura dengan makanan sate. Konon, diceritakan Arya Panoleh, penguasa kerajaan Songenep saat berkunjung pada sang kakak, Batara Katong, penguasa Ponorogo, menu yang dihidangkan adalah daging panggang yang ditusuk lidi. Awalnya, Arya Panoleh menolak untuk mencicipi, namun setelah mendengar penjelasan Batara Katong, kalau makanan itu adalah menu makanan yang biasa disajikan dan disantap para pendekar ponorogo, akhirnya Arya Panoleh menikmati hidangannya. Oleh karenanya, kenapa masyarakat madura identik dengan sate, bahkan setiap kali ada warung sate yang enak dan terkenal oleh masyarakat dilekatkan pada orang madura, iya sate madura.

Di Indonesia khususnya, sudah bisa dipastikan pasca momen pelaksanaan sholat Idul Adha, daging qurban melimpah ruah, umumnya tiap rumah mendapatkan jatah bagian dari hewan qurban yang dipotong sekitar lingkungannya. Sedikit banyaknya jatah yang didapatkan tergantung dari berapa ekor yang diamanahkan oleh orang yang memiliki kemampuan rizki pada panitia qurban. Memang secara agama, berkurban merupakan amal yang sangat dianjurkan (sunnah muakkad) untuk mendekatkan diri pada Allah Subhanahu Wata’ala bagi orang yang mampu dan memiliki rizki. Banyak balasan yang dipersiapkan dan dijanjikan Allah SWT bagi orang-orang yang berkurban.

Menurut Imam Ad-Dailami dalam kitab Al-Firdaus dengan mengutip hadist Abu Hurairah hewan-hewan yang dikurbankan oleh kita, kelak akan menjadi kendaraan kita dalam menyeberangi jembatan (sirathol mustaqim) arah ke surga. Syekh as-Shafuri dalam kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabu an-Nafais, menjelaskan bahwa suatu saat Nabi Daud pernah bertanya kepada Allah perihal pahala atau balasan yang akan didapatkan oleh umat Nabi Muhammad yang berkurban. Kemudian Allah menjawab: “Pahalanya adalah bahwa pada setiap bulu dari hewan kurbannya, Aku beri dia sepuluh kebaikan, Aku hapus sepuluh dosa-dosanya, dan Aku angkat dia dengan sepuluh derajat. Ketahuilah wahai engkau Daud, bahwa sesungguhnya hewan kurban itu adalah kendaraan dan sungguh hewan kurban itu adalah penghapus kesalahan-kesalahan”.

Selain dimensi agama, nyate pada momen Idul Adha juga memiliki makna filosofis yang bisa dipetik pelajaran dalam hidup, misalnya nilai kebersamaan. Mulai dari proses penyembelihan, pemisahan daging dengan kulit, ngiris daging kecil-kecil hingga pada pemanggangan menjadi daging masak (matang), semua dilakukan secara bersama-sama. Kemudian, nilai kesederhanaan dalam menjalani kehidupan. Alat untuk memanggang sate, tusuk sate, arang, alat pemanggang dan lainnya semuanya adalah alat-alat sederhana yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Karenanya untuk menikmati hidup kita harus menerapkan sikap sederhana, kompak dengan tetangga, sahabat, gotong royong. Ketika itu sudah kita wujudkan dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari, maka kita menikmati hidup, senikmat menyantap daging sate.

*) Penulis adalah Ketua STAIM Lumajang

Artikel Terkait

Artikel Terbaru