Ilusi Membangun Budaya Literasi Ditengah Perpustakaan yang Sepi

Sepiring nasi tanpa lauk pauk itu tidak akan enak dan sulit ditelan sebab rasanya hambar, demikian pula dengan literasi, tanpa membaca, hasil karya tulisannya tidak akan enak dibaca, amburadul dan garing, tidak berbobot serta sulit dipahami pesan apa yang ingin disampaikannya. Oleh sebab itu, bila ingin membangun budaya literasi maka bangun lebih dulu budaya membacanya, keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan, membangun budaya literasi tanpa membaca itu hanya ilusi.

Kepala Perpustakaan STAIM, Hairul Ulum mengatakan, pengunjung perpustakaan kampus dalam sehari paling banyak kisaran 10 sampai 20 mahasiswa. Namun demikian, setiap harinya, lebih sering hanya didatangi 1 pengunjung, yaitu dirinya seorang, sebagai Kepala Perpustakaan. Padahal, jumlah bukunya lebih dari seribu, seandainya 3 angkatan mahasiswa ke Perpustakaan semua, maka semuanya masih bisa pinjam buku satu-satu.

Rendahnya kebiasaan membaca memang tidak terjadi di Kampus STAIM saja, pernah berbincang dengan pengelola Perustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Jember, di sana dalam sehari pengunjungnya tidak sampai 100 orang. Padahal, kalau melihat jumlah penduduk Kabupaten Jember, lebih dari 2 juta, ditambah dengan mahasiswa pendatang dari kabupaten lain yang kuliah di sejumlah kampus di Jember.
Hasil peringkat Program for International Student Assessment (PISA), literasi Indonesia memang naik 5 tingkat dibandingkan dengan tahun 2019 lalu yang berada di posisi 62. Namun demikian, jumlah negara yang tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)sebagai penyelenggara PISA tiap 3 tahun sekali, hanya 81 negara termasuk Indonesia. Di peringkat tersebut, bila diasumsikan dengan jumlah penduduk Indonesia, dari 1000 orang maka hanya ada 1 orang yang suka membaca.

STAIM sebagai kampus berbasis pesantren dengan menekankan agama sebagai ujung tombaknya, sudah selayaknya budaya membaca menjadi prioritas utama, ingat! ayat pertama kali turun pun surat Al-Alaq perintahnya membaca. Apabila membaca sudah menjadi budaya yang sulit ditinggalkan, maka budaya literasi akan terbangun dengan sendirinya. Sebab isi kepala mahasiswa penuh dengan ide-ide dan gagasan, mereka akan gelisah dan pikirannya penuh manakala tidak dituangkan dalam tulisan.

UKM Jurnalistik STAIM diharapkan jadi lokomotif penggerak di bidang literasi. Namun, setelah terbentuk di mahasiswa putra, pengurusnya banyak mintanya, bubar sebelum ada karyanya. Beruntungnya, mahasiswi putri masih berjalan meski baru menerbitkan 1 majalah kampus, menyusul buku Ontologi yang masih proses. Meski di mahasiswi putri sudah ada karya, problem yang dihadapi mereka selalu sama, kesulitan memulai tulisannya dari mana, problem tersebut disebabkan karena jarangnya membaca.

Robith Fahmi

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Artikel Terkait

Artikel Terbaru