IBRAHIM-ISMAIL: Profil Teladan dalam membentuk Relasi Komunikasi yang Demokratis antara Orang tua dan Anak

Idul Adha merupakan peristiwa bersejarah bagi umat islam, dimana momen ini dikenal sebagai hari Qurban, setiap tahun seluruh umat Islam merayakan hari yang memiliki kesan mendalam dengan mengenang tokoh-tokoh yang diabadikan dalam al-qur’an dengan kisah Pengorbanann yang luar biasa Yaitu Nabi Ibrahim As putra Kesayangannya Nabi Ismal As demi kepatuhan terhadap titah RobbNya_.

Sebagaima tercatat dalam Surah Ash-Saffat ayat 102, bahwa kisah pengorbanan bermula ketika nabi ibrahim bermimpi menyembelih ismail. Ibrahimpun mendatangi ismail dan berkata ” Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Dengan penuh kesalehan dan keikhlasan Ismail menjawab “Wahai Ayah, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insyallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.

Kutipan percakapan diatas dapat kita garis bawahi bahwa, terdapat nilai-nilai pendidikan yang patut dijadikan tauladan bagi kita (red:orang tua), karena dewasa ini banyak terjadi kesenjangan antara orang tua dan anak sehingga melahirkan disharmoni diantara keduanya. Jangan salahkan anak jika terdapat pembangkangan terhadap perintah orang tuanya, jangan salahkan anak jika rumah hanya dijadikan terminal/atau tempat singgah, jangaan saalahkan anak jika nasehat orang tua hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. kasus demikian banyak terjadi dimasyarakat kita, sebagaimana penuturan Prof. Dr. H. Ali Aziz, M.Ag dalam sebuah acara Parenting, bahwa “Parenting ini bukan untuk anak tapi untuk orang tua, ilmu parenting ini sangat penting untuk diketahui oleh orang tua” karena orang tua merupan sekolah pertama dan utama dalam mendidik dan membentuk karakter seorang anak.

Disfungsi keluarga layaknya sebuah domino. Masalah keluarga secara langsung berkaitan dengan kondisi dan perilaku kedua atau salah satu pihak ortu, yang kemudian jadi berdampak langsung terhadap perkembangan anak.

Dari keridhoan Nabi ismail untuk disembelih tentu tidak terlepas dari didikan orang tuanya (Nabi ibrahim dan siti Hajar) karena Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak,dari sanalah anak mulai mengenal segala sesuatunya hingga mereka
menjadi tahu dan mengerti. Di mana semua ini tidak akan terlepas dari tanggung
jawab keluarga terutama orang tua yang memegang peran yang sangat penting
bagi kehidupan anaknya.

Kebijaksanaan Nabi ibrahim mengajak dialog ismail perihal mimpinya tersebut merupakan simbol bagaimana harusnya orangtua selalu membangun relasi komunikasi dengan anak, karena komunikasi merupakan masalah kebiasaan, artinya komunikasi antara anak dan orang tua harus terus menerus terpelihara, biasanya, orang tua menjadi lengah justru ketika anak mulai dewasa. Sehingga tak ada lagi muncul kekerasan yan bersifat fisik, verbal maupun pskisis sehingga keberadaan orang tua tak lagi ditakuti akan tetapi selalu dirindukan, hingga harmoni dalam keluarga dapat tercipta.

Erlin Indaya Ningsih, M.Pd.I _ Kaprodi PGMI STAI Miftahul Ulum Lumajang

Artikel Terkait

Artikel Terbaru