Butterfly Effect

Ahli meteorologi Edward Norton Lorenz mencetuskan teori Butterfly Effect atau biasa dikenal efek kupu-kupu. Dalam teori ini menjelaskan bahwa hal-hal kecil bisa berdampak besar di kemudian hari, sebagaimana penyebab terjadinya perang dunia I, ketika pangeran Hongaria Franz Ferdinand terbunuh di Serbia dan kedua negara menyatakan perang. Dibalik dua negara tersebut, sama-sama ada negara yang mendukungnya, Serbia didukung Jerman sementara Hongaria didukung Rusia. Perang pun pecah merembet ke negara lainnya yang turut serta saling mendukung dan bertentangan.

Kasus terbunuhnya satu orang bernama Franz Ferdinand tersebut menjadi penyebab api peperangan di berbagai belahan dunia berkobar, ribuan nyawa melayang dan banyak bangunan yang rata menjadi tanah. Kasus tersebut tidak terprediksi sebelumnya bila akan menjadi penyebab ribuan bahkan jutaan orang menderita, namun hal tersebut benar-benar terjadi, sejarah mencatatnya.Selain perang dunia I, ada lagi kasus Butterfly Effect, yaitu di Mesir. Ketika seorang warga bernama Wael Abbas memvidiokan setiap kejadian yang ada di negaranya, selama ini media massa Mesir disetir oleh Rezim Mubarak, fakta kekerasan dan kerusuhan di mana-mana tidak diketahui dunia, sebelum Wael Abbas merekamnya dan upload di blog pribadinya.

Media maenstrem Mesir pada massa Rezim Mubarak tidak berani memberitakan fakta, mirip dengan Orde Baru di Indonesia saat Soeharto berkuasa. Namun, Wael Abbas lewat kameranya, membuka mata dunia, setiap vidio yang diunggahnya menjadi rujukan media Internasional, Washingtonpost pun mengutip setiap kejadian di Medir dari blog Wael Abbas. Dia tidak memprediksi sebelumnya bila blognya akan dikunjungi jutaan orang, meski blognya tidak mampu mendorong kekalahan Mubarak di Pemilu. Tapi, dia mendapat penghargaan Knight Internasional Award dari International Court of Justice (ICJ) dan berkatnya karya blog dianggap sebagai Produk Jurnalistik selama sesuai Kaidah Jurnalistik.

Wael Abbas tidak memprediksi bila hidupnya bakalan berubah berkat rekamannya, Ia juga mendapat beasiswa pendidikan di Amerika dari Fredom Hoese. Di website Staimlumajang.ac.id sudah tersedia kolom opini, sengaja diberikan untuk manampung oretan dosen dan mahasiswa, tidak perlu panjang, tidak perlu berfikir terlalu keras, hanya perlu satu tarikan nafas 4 sampai 5 paragraf sudah cukup untuk menuangkan gagasan dan fikiran. Bisa ditulis saat merenung saat beol, saat ngopi dan menyendiri sebab momen tersebut biasanya ide-ide brilian itu melintas di kepala.

Jangan sampai ide-ide brilian itu hilang menguap begitu saja, tuliskan dan tumpahkan semua. Kita tidak bisa memprediksi bagaimana nasib tulisan itu, siapa tau, gagasan sederhana kita akan berdampak besar terhadap kemajuan kampus maupun penulisnya, Wallahua’lam…. Percayalah, teori Butterfly Effect itu sudah teruji dan bahkan sering terjadi.

Robith Fahmi

Artikel Terkait

Artikel Terbaru