Benarkah Terbedakan?

Oleh; Mochammad Hisan, Ketua STAIM Lumajang

Alhamdulillah hari Rabu, 5 Juni 2024 saya dan pengurus STAIM Lumajang berkesempatan melakukan evaluasi program kegiatan triwulan ke-2 pada tahun akademik 2024. Tentunya, evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kendala, kelemahan dan hambatan yang terjadi selama proses pelaksanaan kegiatan yang kita laksanakan pada tahun berjalan dan kemudian mencari langkah-langkah inovasi dalam memantapkan kualitas pelayanan STAIM terutama dalam bidang pendidikan/pengajaran, penelitian (researc) dan pengabdian, tridharma Perguruan Tinggi.

Hal yang dapat terurai dengan baik adalah trand animo mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya. Andaikan dipersentase, kehadiran mahasiswa di kelas perkuliahan sudah mencapai angka 80-90 persen dari total mahasiswa dalam satu kelas. Tentu, informasi ini sangat menggembirakan bagi saya dan keluarga besar STAIM Lumajang. Perbaikan tata kelola pelayanan, pemberian reward and punishment mahasiswa, penguatan institusi (institutional building) dalam beberapa tahun terakhir yang dilaksanakan tanpa kenal lelah oleh para dosen, pengurus STAIM sedikit demi sedikit membuahkan hasil.

Memang, untuk mengurai dan mendorong mahasiswa memiliki kesadaran pentingnya hadir dalam perkuliahan memerlukan langkah inovatif dan sedikit lelah. Hal demikian, sangat logis karena mayoritas mahasiswa STAIM Lumajang berstatus santri aktif Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto Lumajang dengan segudang kegiatan pesantren (ma’hadiyah). Sedikit mendiskripsikan aktivitas kegiatan santri yang berstatus mahasiswa, sejak subuh hingga pelaksanaan jam perkuliahan tidak ada jam kosong dari kegiatan. Dimulai dengan jamaah sholat subuh, sema’an al-Qur’an, sekolah madrasah diniyah (khusus memperdalam kitab-kitab kuning/turast), sekolah formal yang kurikulumnya mengikuti kebijakan Pemerintah RI, hingga pelaksanaan jamaah sholat asar di masjid. Selepas itu, dilanjutkan dengan kajian kitab-kitab turast hingga menjelang sholat magrib. Apa setelah itu bisa istrihat? Tentu tidak, seluruh santri baik yang berstatus mahasiswa maupun yang siswa masih berkewajiban mengikuti pelajaran Al-Qur’an bit Tartil hingga pelaksanaan jamaah sholat isyak kemudian dilanjutkan kembali dengan kajian kitab kuning sesuai jenjang kelasnya sampai jam 23.00 WIB. Barulah semua santri diperkenankan istirahat.

Disamping itu, sebagian masyarakat pesantren masih beranggapan kitab kuning lebih penting daripada ilmu yang bersumber dari buku-buku tulisan huruf alfhabet. Tidak sedikit yang beranggapan ilmu kitab kuning bisa mendatangkan barokah (bertambahnya kebaikan), sedangkan buku tidak. Hal demikian, salah satunya disebabkan karena adanya dikotomi ilmu pengetahuan (science dhicotomy), ilmu agama, ilmu umum berbasis humaniora dan saintis. Dampaknya, lembaga pendidikan juga mengalami pengklasifikasian, lembaga pendidikan diniyah dan lembaga umum (formal). Bila pengklasifikasian ilmu dan lembaga pendidikan tidak diposisikan secara diametral dan konfrontatif, tentu tidak ada masalah dan bahkan saling mengisi, saling menyempurnakan. Namun akan berbeda bila di posisikan secara vis a vis, diposisikan bertentangan.

Diskursus dikotomi keilmuan (science dhicotomy) sudah terjadi pada abad silam, tepatnya pada penghujung abad 18, saat puncak kejayaan peradaban dunia islam berada diujung tanduk kemunduran. Para cendikiawan muslim terpecah dalam dua kubu, ada yang memberikan fatwa pengutamaan ilmu agama daripada saint dan ada yang berfatwa ilmu itu satu, tidak ada pengutamaan, tidak ada pengklasifikasian. Diantara ilmuan yang memberikan pengutamaan ilmu agama adalah Imam Ghazali, teolog, mistikus, ahli dalam bidang yurisprudensi (hukum), etika, logika dan filsafat. Menurut Imam Ghazali, ilmu terklasifikasi menjadi ilmu yang dihadirkan dan ilmu yang dicipta, ilmu-ilmu teoritis dan praktis, ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu intelektual serta ilmu fardu ain dan fardu kifayah.

Lalu, bagaimana dengan potret ke-Ilmuan santri mahasiswa STAIM Lumajang? KH. Husni Zuhri, Ketua pembina Yayasan sekaligus Pengasuh Pondok Banyuputih seringkali memberikan ungkapan metafora yang menggambarkan harapan beliau. “berhati mekkah, berotak jerman”. Dengan arti lain, penggemblengan santri mahasiswa Miftahul Ulum Banyuputih Kidul diharapkan membentuk kader yang bisa mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Kader yang memiliki kecakapan ilmu baik yang bersumber dari kitab kuning (turast) dan juga ahli dengan ilmu praktis yang menjadi kebutuhan syiar Islam.
Kader santri mahasiswa yang mencerminkan pemikiran tokoh seperti Imam Syafii, Imam Malik, Imam Hanafi dan Imam Hambali, Ibnu Rusyd dan Imamuna Ghazali dalam bidang filsafat, Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Al-Farabi dalam bidang saint dan filsafat, Ibnu Khaldun bidang ilmu sosiologi, Al-Khawarizimi dalam bidang ilmu matematika dan trigonometri, Al-Haitami peletak dasar pertama optik modern dan peletak dasar mikroskop, serta Al-Zahrawi yang dijuluki bapak bedah modern dengan penggunaan jarum suntik, forcep, jarum jahit luka, pisau bedah, dan alat-alat bedah lainnya. Semoga…!

Artikel Terkait

Artikel Terbaru